DONGENG sebelum tidur adalah ''ritual'' Nenek dan kami, dulu. Rasanya, mata sulit terpejam jika Nenek belum bercerita. Sekali waktu, Nenek menyemangati kami: ''Kamu harus bisa jadi orang. Jangan seperti Dampo Awang, si anak durhaka itu. Kamu anak pilihan!''
Memang, Nenek tak menjabarkan kata ''pilihan'' tersebut. Belakangan bisa diartikan bahwa ''pilihan'' karena kita terlahir setelah berhasil ''menyingkirkan'' sekitar 400 juta sperma yang gagal membuahi ovum. Luar biasa! Maka, alangkah sayang jika kita tidak bermanfaat secara positif.
Berdasar penelitian Journal of Family Psychology, berbagi dongeng, makan dan berlibur bersama, serta saling menanyakan kabar lewat telepon menjadi lem perekat kekuatan keluarga. Bisa pula menunjukkan identitas kepribadian keluarga.
''Ritual'' seperti itu pula, antara lain, yang dimaui dan digagas dr. H.A. Sofyan Hasdam, SpS, Wali Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sejak awal 2002, melalui Gerakan Keluarga Sakinah (GKS), ia mencanangkan nilai-nilai kemanusiaan yang akhlakul karimah agar tercipta tertib agama, kemandirian, dan rasa aman.
Program GKS ini didukung pemda setempat. Warga disantuni alat salat dan buku-buku agama. Yang mau menikah diberi penyuluhan, misalnya, adab dan etika suami-istri, psikologi pernikahan, manajemen rumah tangga, dan seks yang sehat. Majelis taklim digalakkan. ''Sekarang ini, hampir tiap RT punya majelis taklim,'' kata Sofyan.
Dampak positif lain, angka buta huruf Quran dalam dua tahun menurun drastis sampai 95%, dari perkiraan 3.000 orang tinggal 100 orang. Angka perceraian juga turun sampai 65% (tahun 2002 sebanyak 111 kasus, dan tahun 2003 menjadi hanya 50 kasus). Jumlah warga Bontang sekitar 118.000 jiwa.
Rumah tangga kisruh itu, antara lain, disebabkan ketidakpahaman orang pada tujuan perkawinan. ''Contohlah Nabi Muhammad,'' kata Sofyan. Sekalipun rumahnya berupa pondok kecil beratap jerami setinggi jangkauan remaja, dan kamarnya dipisahkan batang pohon pisang yang direkat lumpur bercampur kapur, ia menyebut, ''Rumahku adalah surgaku.''
Harta dia paling mewah adalah sepasang alas kaki hadiah Negus di Abbysenia. Sekalipun punya pembantu, Nabi memerah susu, mengepel lantai, dan menjahit sendiri alas kakinya yang putus. Dia penuh pengertian pada istri dan sangat mendahulukan kepentingan keluarga ketimbang dirinya. Dia sangat adil pada istri-istrinya. Keadilan --termasuk yang batin-- adalah kunci keutuhan dan ketenteraman.
Rasul pernah menasihati putrinya, Fatimah RA, tentang keluarga sakinah. Dalam buku Merekat Kebahagiaan Keluarga, Sofyan mengisahkan, suatu hari Fatimah menemui ayahnya dengan sedih. ''Ayahanda, semalam aku bercanda dengan suamiku, dan ada ucapanku yang tidak aku sengaja melukai hatinya. Tiba-tiba suamiku marah, dan aku sangat menyesalinya,'' tuturnya.
Lalu putri Nabi itu minta maaf. Bahkan ia merayu dengan cara memutari badan suaminya hingga 72 kali. Akhirnya, Ali RA tertawa seraya memaafkan dengan tulus. ''Meski demikian, aku masih takut akan murka Tuhan, wahai ayahandaku,'' kata Fatimah.
Jawab Rasul, ''Seandainya engkau mati sebelum suamimu (Ali RA) memaafkanmu, niscaya aku tidak menyalati mayatmu.'' Lalu dia diam sesaat dan melanjutkan, ''Wahai Fatimah putriku sayang, tidakkah engkau tahu bahwa kerelaan/memaafkan suami adalah kerelaan Allah. Murka suami itu juga merupakan murka Allah.''
Tak berarti Nabi bebas dari prahara rumah tangga. Pernah para istrinya menuntut uang belanja lebih dan diberi aneka perhiasan. Cemburu di antara mereka juga jadi masalah tersendiri. Ada pula fitnah. Aisyah RA, misalnya, salah satu ummuhatul-mu'minin, simbol kesucian wanita Islam, dituduh ''berselingkuh'' dengan seorang sahabat.
Keretakan rumah tangga bisa pula disebabkan oleh anak. Anak, umumnya, meniru perilaku orangtua dan lingkungan terdekat. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, ''Anak itu lahir dalam keadaan suci. Kamulah orangtuanya yang menjadikannya Nasrani, Majusi, atau Yahudi.''
Adapun nasihat Nabi buat orangtua: ''Didiklah anakmu sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat.'' Anak, berapa pun usianya, adalah manusia yang memiliki jiwa, perasaan, dan kepribadian. Pernah, saat Nabi menggendong bayi, tahu-tahu dipipisi. Pakaian Rasul pun basah. ''Buru-buru aku merenggutnya,'' kisah Ummu Al-Fadhl.
Tapi Nabi menegurku: ''Pakaian basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa sang anak akibat renggutanmu yang kasar ini?'' Jadi, rasa percaya diri itu perlu ditanamkan sejak dini.
Berdasar penelitian, 90% perasaan rendah diri pada orang dewasa dialami sebelum mereka dewasa. Maka, ''Hormatilah anak-anakmu,'' kata Nabi. Bagaimana caranya? Jawab Nabi: ''Menerima jerih payahnya walau kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebani dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hati.''
Memang, jika disimak, tiada keluarga yang sunyi dari masalah. Namun tidak ada masalah hidup yang muncul kecuali berawal dari diri kita sendiri. Mungkin kita sering ''menginjak'' kaki orang. Barangkali pula kita masih berkutat di ''pabrik'' dosa. Atau, kita sering bersembunyi di balik kalimat indah dan bersumpah atas nama Allah.
Orang yang tiada memiliki iman cenderung menipu diri sendiri. Suami, misalnya, acap menyembunyikan keberadaan diri. HP dimatikan. Sebaliknya, istri lebih syur memakai baju ''kebesaran'' daster dan pasang muka kecut, lantaran merasa ranjangnya telah dingin. Cekcok pun tak terhindarkan. Padahal, sesungguhnya, masalah adalah bagian dari pendewasaan seseorang.