Navigate


Sometimes.....
A little bit is better...
<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


   
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

rss feed

~~~O~~~Dew Drops~~~O~~~

Monday, June 26, 2006
APA YANG KITA SOMBONGKAN?

Sumber : Unknown

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat
Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat
lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan  ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka
pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa
menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu,
saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah,
sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita merasa lebih kaya, lebih
rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong
disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten,
dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong
disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering menganggap diri kita lebih
bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan
kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi  kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas  antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan
KESADARAN sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup.
Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang
memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati.

Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan
paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada
hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian
kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup
di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam".
Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun
perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.


Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan
kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.


Jadi,setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik
kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?


Posted at 02:09 pm by Azuri
Make a comment  

Friday, February 03, 2006
Racun

Widi Yarmanto


SEMUA kejadian pasti bermakna, tak peduli bikin sedih atau sakit hati. Maka, nasihat arif yang acap kita dengar adalah: ''Petik manfaatnya, ambil hikmahnya.'' Ubahlah cara pandang! Istilah kerennya, reframing. Yaitu upaya membingkai ulang sebuah kejadian dengan mengubah sudut pandang secara positif.

Maka, jadilah sebuah kebencian bersulih cinta. Ketakutan mewujud ketenteraman batin. Dan, yang tampak ''tidak adil'' terlihat sebagai anugerah yang perlu disyukuri. Apalagi jika mampu melihat secara polos, alami tanpa ego, maka akan tergambar cinta kasih yang hidup dalam setiap renik penciptaan-Nya.

Hidup pun benar-benar tenteram tanpa dibayangi ketakutan. Pelukis, pemusik, dan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1816-1941), menulis begini: ''Di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung. Dan, semua itu ada Yang Mengatur. Kenapa mesti takut?''

Ya, kenapa mesti takut? Sunan Bonang alias Makhdum Ibrahim, yang lahir pada pertengahan abad ke-15 dan meninggal pada abad ke-16, menulis sajak begini:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada di dalam diri
malah seluruh dunia ada di dalam diri
Jadikan dirimu cinta
Supaya dapat memandang dunia
Pusatkan pikiran heningkan cipta
Siang malam, berjagalah!
Segala yang ada di sekelilingmu
Adalah buah amal perbuatanmu

Jadikan dirimu cinta supaya dapat memandang dunia! Kalimat yang bermakna dalam. Dr. Deepak Chopra, ahli psikospiritual India, menulis dalam The Way of the Wizard, Rahasia Jurus Sang Empu, cinta adalah ''yang meluluhkan segala ketidakmurnian, sehingga yang masih ada hanya yang sejati dan yang riil.'' Selama kaupunya takut, kaupunya kemarahan, kaupunya ego yang mementingkan diri sendiri, kau tidak bisa benar-benar mencintai.

Dan, tidak ada orang yang tanpa cinta. Yang ada hanya orang yang tidak bisa merasakan kekuatan cinta. Cinta itu lebih dari suatu emosi atau suatu perasaan. Cinta lebih dari kegairahan. ''Cinta adalah udara yang kita hirup sebagai napas... dan beredar dalam tiap sel.'' Cinta adalah kekuatan tertinggi karena tiada paksaan.

Cinta itu pula yang menggerakkan saya membagi kisah dari e-mail seorang rekan. Ceritanya, di zaman Cina kuno, seorang wanita muda yang baru menikah, Li-Li, tinggal di rumah ''mertua indah''. Setelah berhari-hari berkumpul, dia menyimpulkan tidak cocok dengan si ibu mertua. Tiada hari tanpa debat dan tengkar.

Li-Li tambah kesal karena adat Cina kuno mengatakan: ''Harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertua dan menaati semua kemauannya.'' Suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana, sedih menghadapi keributan yang tiada pernah henti itu.

Akhirnya, Li-Li tak tahan lagi, dan bertekad melakukan sesuatu. Ia pun pergi ke rumah sahabat ayahnya, Sinshe Wang, yang memiliki toko obat. Ia ceritakan kekeruhan di rumah dan mohon agar dibuatkan racun bagi si ibu mertua.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak, lalu berkata: ''Li-Li, saya mau membantu menyelesaikan masalahmu, tapi kamu harus mendengarkan saya dan menaati apa yang saya sarankan.'' Jawab Li-Li: ''Baik, Pak Wang. Saya akan mengikuti yang Bapak katakan.''

Wang mengambil ramuan dan berpesan: ''Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena itu akan membuat orang jadi curiga. Saya memberimu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan jadi racun dalam tubuhnya.''

Untuk itu, ''Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati dan bersikaplah sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu,'' kata Wang.

Li-Li sangat senang dan berterima kasih pada Wang. Buru-buru dia pulang untuk memulai rencana membunuh ibu mertua.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Li-Li melayani mertuanya secara manusiawi. Disuguhkannya makanan lezat yang sudah ''dibumbui''. Pokoknya, sesuai petunjuk agar tak menimbulkan kecurigaan. Ia mulai belajar mengendalikan amarah, menaati perintah ibu mertua, dan memperlakukannya seperti ibu sendiri.

Enam bulan berlalu, dan suasana berubah drastis. Li-Li sudah mampu menguasai diri. Ia tak pernah kesal atau marah lagi. Ia juga tak pernah berdebat dengan ibu mertua. Begitu pula si ibu mertua. Jauh lebih ramah. Li-Li dianggap sebagai putri sendiri. Tak hanya itu, diceritakan pada kawan dan sanak famili bahwa Li-Li menantu paling baik yang ia peroleh.

Suatu hari, Li-Li menemui Sinshe Wang. ''Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan pada ibu mertua tidak sampai membunuhnya. Ia telah berubah jadi wanita sangat baik sehingga saya mencintainya, seperti ibu sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,'' kata dia.

Wang tersenyum. Ia mengangguk-angguk, lalu berkata: ''Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah penguat badan untuk menjaga kesehatan.... Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya. Tapi semua itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.''

Cinta memang dahsyat. Pepatah Cina kuno mengatakan: ''Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya.'' Dan, itu sudah dibuktikan Li-Li, walau pada awalnya karena keterpaksaan.


Posted at 01:38 pm by Azuri
Make a comment  

Wednesday, January 11, 2006
Karakteristik Permasalahan

Yusuf Mansur

SELAMA ini, yang disebut masalah bagi sebagian manusia adalah kondisi-kondisi yang tidak mengenakkan saja. Misalnya punya piutang tak tertagih, punya utang tak terbayar, punya penyakit tak tersembuhkan, punya rumah kecil nan pengap, punya istri tak punya anak, punya suami tapi tak bahagia, dan seterusnya. Tapi, untuk keadaan sebaliknya, tak pernah dianggap oleh manusia sebagai sebuah masalah. Padahal, subhaanallaah, yang disebut masalah dalam kacamata tauhid ternyata bukan itu.…

* Punya piutang tak tertagih, tapi kemudian menyadari bahwa hakikat rezeki adalah kepunyaan Allah, sedangkan kita hanya dititipi. Kemudian bisa mengikhlaskan diri, sabar dalam menerima, dan berkenan mengoreksi kehidupan, maka inilah anugerah. Bukan masalah. Justru yang menjadi masalah, kalau semuanya lancar-lancar saja, lalu kita lupa diri karenanya. Sombong. Tak lagi ingat pada Allah.

* Punya utang tak terbayar. Ini pun anugerah, bila kondisi ini menambah kedekatan kita pada Allah. Dulu, pas banyak uang, tidak ingat Allah, tidak punya kesempatan ngumpul dengan keluarga. Tapi, begitu punya utang, malah mampu menangis di hadapan Allah. Begitu ketakutannya lantaran ditagih, zikir malah mengembang di hati dan di lisan. Ini anugerah, bukan masalah. Justru yang jadi masalah adalah kalau tidak punya utang, tapi tidak punya iman. Utang mah insya Allah mudah, jika Allah sudah berkenan.

* Punya penyakit. Ini juga anugerah. Pernah suatu ketika ada seorang wanita yang minta didoakan oleh Nabi. Tapi, kata Nabi, penyakit itu akan menghapus dosa, dan meningkatkan derajat keimanan dan kehidupan. Lalu si wanita ini tidak jadi minta didoakan. Beberapa waktu kemudian, Nabi bertemu dia dalam keadaan sehat. Menurut sebagian riwayat, kesabaran dan keikhlasan si wanita itu yang membuat penyakit tersebut segera berlalu. Jadi, penyakit bukan masalah, selama bersanding dengan penyakit itu tidak hilang semangat, dan malah bertambah iman. Justru andai sehat lalu tidak ingat pada Allah, ini yang jadi masalah.

* Punya rumah kecil nan pengap. Ini pun kerap dianggap masalah. Padahal, yang bermasalah itu adalah rumah besar yang dihuni oleh penghuni yang sakit hatinya. Rumah kecil, asal penghuninya berhati lapang, dan bertakwa kepada Allah, maka ketenangan akan ''memperbesar'' rumah itu dengan sendirinya. Justru kalau rumah besar, tapi dihuni oleh orang yang beriman tipis, ini yang jadi masalah.

Punya keluhan hidup yang lain, entah itu yang berkaitan dengan rumah tangga, pekerjaan, karier dan usaha, atau apa saja, selama mengantarkan kita kepada kedekatan dengan Allah, Rabbul Izzati, maka sesungguhnya itu semua adalah karunia-Nya. Allah ingin dekat dengan kita. Allah tidak mau kehilangan kita, Allah tidak mau kita kehilangan kendali, dan Allah tidak mau kita susah di alam kubur sana, lantaran sudah menjadi orang yang lupa diri.

Makanya, kadang Allah mengingatkan mereka yang dalam kesenangan dengan memberikan kesusahan. Allah mengingatkan mereka yang jaya dengan menghadirkan keterpurukan. Allah mengingatkan mereka yang berharta dengan kebangkrutan. Allah mengingatkan mereka yang sehat dengan memberikan penyakit, dan Allah mengingatkan mereka dengan kejadian-kejadian di kehidupan kita, agar mau mengingat Dia, Yang Memberikan Kehidupan.

Jadi, sekali lagi, yang disebut masalah itu tidak selalu yang bersifat kesusahan dan kesulitan manusia. Tidak selalu. Kita sudah belajar kearifan sedikit bahwa ternyata kesenangan pun justru bisa menjadi bumerang bagi kita, kalau ia malah mengundang murkanya Allah.

Maka, di akhir tulisan singkat ini, saya mau berpesan kepada diri ini:
Masalah yang membawa seseorang kembali kepada Allah, dan menambah kedekatan dengan-Nya, adalah sesuatu yang seharusnya disyukuri.

Saudaraku, semoga kita semua memiliki hati yang bersyukur, hati yang lapang, dan hati yang ridha dengan segala apa yang Allah telah putuskan untuk kehidupan kita.

Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah kita akan membahas "apakah permasalahan yang sedang kita hadapi, ujian atau azab".

Posted at 01:10 pm by Azuri
Make a comment  

Monday, December 26, 2005
Mengubah Takdir

Yusuf Mansur


"Dan jika Allah menimpakan kemudaratan kepada kamu, maka tidak akan ada yang bisa melepaskannya kecuali Allah. Dan jika Dia berkenan mendatangkan kebaikan-Nya untukmu, ketahuilah Dia teramat kuasa atas tiap-tiap sesuatu" (Al-An'aam: 17).


SAUDARA-saudaraku, pembaca "Kajian Wisata Hati" di mana pun Anda berada. Pada pembahasan terdahulu, kita sudah membahas tentang sesuatu yang bisa menunda datangnya kematian. Yaitu, salah satunya adalah dengan memperbanyak sedekah. Dikisahkan ada seorang anak muda yang akan dicabut nyawanya besok pagi, tapi malah Allah memanjangkan umurnya hingga 70 tahun. Rupanya anak muda tersebut di malam menjelang nyawanya dicabut menyedekahkan separuh hartanya. Dan, perbuatan inilah yang membuat Allah menunda kematiannya.

Dalam konteks permasalahan dan kesulitan hidup, banyak manusia yang merasa sedang mengalami kematian kecil. Banyak orang yang bila kedatangan masalah, yang bila kesulitan hadir, seakan-akan badan tidak lagi memiliki nyawa, lemas tak bertenaga, gelap tak bercahaya. Hidup tanpa motivasi dan semangat lagi. Ya, tidak sedikit di antara kita yang kemudian merasa seakan hidupnya segera akan berakhir.

Maka, ketika Rasulullah menyampaikan berita bahwa sedekah akan memperpanjang umur dan menunda kematian datang, kiranya sedekah pun akan punya pengaruh sangat besar untuk sebagian dari kita yang sedang mengalami kematian-kematian kecil. Sedekah, insya Allah, akan bisa menyelamatkan kita dari permasalahan dan kesulitan hidup yang sedang kita alami. Seakan ia juga "memanjangkan umur" kita.

***

Saudaraku, cobalah resep sederhana ini: Resep Sedekah! Bila Anda sedang menghadapi "kematian-kematian kecil", misalnya keterpurukan usaha, ketidakmampuan membayar utang, rumah tangga yang tidak harmonis, kesedihan atau keputusasaan yang mendalam, segera saja menyedekahkan sesuatu yang terbaik yang Anda miliki. Sedekahkan untuk Allah. Cari dan temukan orang yang lebih susah dari Anda, untuk kemudian Anda berikan pertolongan. Bila Anda bisa melakukannya, bukan tidak mungkin Allah akan mengubah keputusan-Nya;

* Yang tadinya usaha Anda menuju kehancuran total, Allah selamatkan dengan Kuasa-Nya, hingga Anda menemukan usaha Anda kembali bersinar, kembali jaya.

* Yang tadinya Anda terancam berhenti dari pekerjaan, malah kemudian Anda akan menemukan diri Anda berkarier semakin bagus.

* Yang tadinya rumah Anda sudah akan disita oleh bank, Anda malah kemudian bisa membeli rumah kedua.

* Yang tadinya Anda menemukan diri Anda sedang menuju kehancuran rumah tangga, malah menemukan diri Anda semakin harmonis dalam berumah tangga.

* Yang tadinya utang seakan sudah tidak akan terbayar, mencekik leher Anda, membuat cemas hati Anda, dan membuat gundah gulana sepanjang hari, tiba-tiba Anda menemukan utang-utang itu surut.

* Yang tadinya Anda hidup di bawah tekanan dan ancaman, akan segera terbebas dari tekanan dan ancaman. Bahkan mungkin Anda akan menemukan diri Anda sudah bebas sama sekali dari sesuatu yang Anda sebut sebagai masalah.

Yang demikian itu terwujud bila Allah menghendaki. Dan kita bisa meminta pertolongan Allah, bisa menghadirkan kehendak Allah yang lain. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan sedekah. Sedekah akan memperpanjang umur. Termasuk "umur" segala masalah di dunia ini. Di tangan Allah-lah segala keputusan mengubah segala sesuatunya;

* Bagi Allah, mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin adalah sesuatu yang teramat mudah.

* Bagi Allah, mengubah yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi mudah, yang buntu memiliki jalan keluar, pun teramat mudah.

* Bagi Allah, bahkan mengubah mereka yang kaya menjadi miskin, mengubah orang-orangtua yang memiliki anak banyak menjadi tidak memiliki anak sama sekali, mengubah mereka yang sukses menjadi sangat terpuruk, mengubah mereka yang terhormat menjadi hina, adalah benar-benar teramat mudah.

Bila kita bertanya, kenapa semua yang di mata manusia tidak mungkin menjadi mungkin? Kenapa semua yang seakan mustahil bagi manusia menjadi tidak mustahil? Semua itu karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Selamat mengubah keputusan Allah, dengan memberikan kepada Allah sedekah terbaik dari harta yang Allah titipkan kepada kita. Sampai ketemu di pembahasan berikutnya, yaitu tentang "apa sebenarnya yang disebut permasalahan dan kesulitan".



Posted at 01:18 pm by Azuri
Make a comment  

Wednesday, December 21, 2005
Sakinah

Widi Yarmanto

DONGENG sebelum tidur adalah ''ritual'' Nenek dan kami, dulu. Rasanya, mata sulit terpejam jika Nenek belum bercerita. Sekali waktu, Nenek menyemangati kami: ''Kamu harus bisa jadi orang. Jangan seperti Dampo Awang, si anak durhaka itu. Kamu anak pilihan!''

Memang, Nenek tak menjabarkan kata ''pilihan'' tersebut. Belakangan bisa diartikan bahwa ''pilihan'' karena kita terlahir setelah berhasil ''menyingkirkan'' sekitar 400 juta sperma yang gagal membuahi ovum. Luar biasa! Maka, alangkah sayang jika kita tidak bermanfaat secara positif.

Berdasar penelitian Journal of Family Psychology, berbagi dongeng, makan dan berlibur bersama, serta saling menanyakan kabar lewat telepon menjadi lem perekat kekuatan keluarga. Bisa pula menunjukkan identitas kepribadian keluarga.

''Ritual'' seperti itu pula, antara lain, yang dimaui dan digagas dr. H.A. Sofyan Hasdam, SpS, Wali Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sejak awal 2002, melalui Gerakan Keluarga Sakinah (GKS), ia mencanangkan nilai-nilai kemanusiaan yang akhlakul karimah agar tercipta tertib agama, kemandirian, dan rasa aman.

Program GKS ini didukung pemda setempat. Warga disantuni alat salat dan buku-buku agama. Yang mau menikah diberi penyuluhan, misalnya, adab dan etika suami-istri, psikologi pernikahan, manajemen rumah tangga, dan seks yang sehat. Majelis taklim digalakkan. ''Sekarang ini, hampir tiap RT punya majelis taklim,'' kata Sofyan.

Dampak positif lain, angka buta huruf Quran dalam dua tahun menurun drastis sampai 95%, dari perkiraan 3.000 orang tinggal 100 orang. Angka perceraian juga turun sampai 65% (tahun 2002 sebanyak 111 kasus, dan tahun 2003 menjadi hanya 50 kasus). Jumlah warga Bontang sekitar 118.000 jiwa.

Rumah tangga kisruh itu, antara lain, disebabkan ketidakpahaman orang pada tujuan perkawinan. ''Contohlah Nabi Muhammad,'' kata Sofyan. Sekalipun rumahnya berupa pondok kecil beratap jerami setinggi jangkauan remaja, dan kamarnya dipisahkan batang pohon pisang yang direkat lumpur bercampur kapur, ia menyebut, ''Rumahku adalah surgaku.''

Harta dia paling mewah adalah sepasang alas kaki hadiah Negus di Abbysenia. Sekalipun punya pembantu, Nabi memerah susu, mengepel lantai, dan menjahit sendiri alas kakinya yang putus. Dia penuh pengertian pada istri dan sangat mendahulukan kepentingan keluarga ketimbang dirinya. Dia sangat adil pada istri-istrinya. Keadilan --termasuk yang batin-- adalah kunci keutuhan dan ketenteraman.

Rasul pernah menasihati putrinya, Fatimah RA, tentang keluarga sakinah. Dalam buku Merekat Kebahagiaan Keluarga, Sofyan mengisahkan, suatu hari Fatimah menemui ayahnya dengan sedih. ''Ayahanda, semalam aku bercanda dengan suamiku, dan ada ucapanku yang tidak aku sengaja melukai hatinya. Tiba-tiba suamiku marah, dan aku sangat menyesalinya,'' tuturnya.

Lalu putri Nabi itu minta maaf. Bahkan ia merayu dengan cara memutari badan suaminya hingga 72 kali. Akhirnya, Ali RA tertawa seraya memaafkan dengan tulus. ''Meski demikian, aku masih takut akan murka Tuhan, wahai ayahandaku,'' kata Fatimah.

Jawab Rasul, ''Seandainya engkau mati sebelum suamimu (Ali RA) memaafkanmu, niscaya aku tidak menyalati mayatmu.'' Lalu dia diam sesaat dan melanjutkan, ''Wahai Fatimah putriku sayang, tidakkah engkau tahu bahwa kerelaan/memaafkan suami adalah kerelaan Allah. Murka suami itu juga merupakan murka Allah.''

Tak berarti Nabi bebas dari prahara rumah tangga. Pernah para istrinya menuntut uang belanja lebih dan diberi aneka perhiasan. Cemburu di antara mereka juga jadi masalah tersendiri. Ada pula fitnah. Aisyah RA, misalnya, salah satu ummuhatul-mu'minin, simbol kesucian wanita Islam, dituduh ''berselingkuh'' dengan seorang sahabat.

Keretakan rumah tangga bisa pula disebabkan oleh anak. Anak, umumnya, meniru perilaku orangtua dan lingkungan terdekat. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, ''Anak itu lahir dalam keadaan suci. Kamulah orangtuanya yang menjadikannya Nasrani, Majusi, atau Yahudi.''

Adapun nasihat Nabi buat orangtua: ''Didiklah anakmu sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat.'' Anak, berapa pun usianya, adalah manusia yang memiliki jiwa, perasaan, dan kepribadian. Pernah, saat Nabi menggendong bayi, tahu-tahu dipipisi. Pakaian Rasul pun basah. ''Buru-buru aku merenggutnya,'' kisah Ummu Al-Fadhl.

Tapi Nabi menegurku: ''Pakaian basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa sang anak akibat renggutanmu yang kasar ini?'' Jadi, rasa percaya diri itu perlu ditanamkan sejak dini.

Berdasar penelitian, 90% perasaan rendah diri pada orang dewasa dialami sebelum mereka dewasa. Maka, ''Hormatilah anak-anakmu,'' kata Nabi. Bagaimana caranya? Jawab Nabi: ''Menerima jerih payahnya walau kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebani dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hati.''

Memang, jika disimak, tiada keluarga yang sunyi dari masalah. Namun tidak ada masalah hidup yang muncul kecuali berawal dari diri kita sendiri. Mungkin kita sering ''menginjak'' kaki orang. Barangkali pula kita masih berkutat di ''pabrik'' dosa. Atau, kita sering bersembunyi di balik kalimat indah dan bersumpah atas nama Allah.

Orang yang tiada memiliki iman cenderung menipu diri sendiri. Suami, misalnya, acap menyembunyikan keberadaan diri. HP dimatikan. Sebaliknya, istri lebih syur memakai baju ''kebesaran'' daster dan pasang muka kecut, lantaran merasa ranjangnya telah dingin. Cekcok pun tak terhindarkan. Padahal, sesungguhnya, masalah adalah bagian dari pendewasaan seseorang.


Posted at 08:18 am by Azuri
Make a comment  

Next Page